Peranan Penting Sunan Kudus | Artikel Sunan Kudus | Sunan Kudus | Ilmu Hakikat Sunan Kudus - www.sunan-kudus.com
Sunan Kudus

PERANAN JA’FAR SHODIQ SAAT RATU SAHIBUL DAN HADIWIJAYA (JAKA TINGKIR) BERSELISIH

Salah satu Masalah yang berkepanjangan antara Ratu Sahibul dan Hadiwijaya dikatakan sebagai perang saudara, karena mereka sebenarnya berasal dari rumpun yang sama, yaitu Brawijaya.

Dalam Masalah perebutan tahta demak, Ja’far Shodiq dan Sunan Kalijaga sangat berperan penting dalam masalah ini.

Ja’far Shodiq sangat sakit hati atas kematian Ratu Sahibul yang katanya dibunuh secara brutal dan kejam oleh musuh-musuhnya karena menurut Ja’far Shodiq, Ratu Sahibul berhak menjadi Raja Demak, bukan Hadiwijaya yang berstatus sebagai menantu Sultan Demak III.

Ja’far Shodiq merupakan orang yang paling diikuti oleh Ratu Sahibul, hal ini wajar karena Saat Ayahnya Pangeran Sekar Seda Lepan terbunuh, yang banyak mendidik dan mengasuh Ratu Sahibul adalah Ja’far Shodiq. Ja’far Shodiq sudah seperti ayah bagi Ratu Sahibul, secara kekerabatan saja Ja’far Shodiq dipanggil Sultan Trenggono adalah Kang Mas, karena istri dari Ja’far Shodiq adalah adik sepupu dari Sultan trenggono.

Mertua Ja’far Shodiq adalah Adipati terung. Adipati Terung merupakan Adik raden Fatah. Jadi secara nasab, Ja’far Shodiq ini hitungannya masih Paman Ratu Sahibul, sehingga adanya ikatan ini makin mempererat hubungan antara guru dan murid ini. Jadi sekali lagi  Ahli Sejarah berkayakinan bahwa perginya beliau dari Demak pasti sedikit banyak berasal dari guru yang ia cintai.

Betapapun kerasnya Ratu Sahibul untuk bertahan sampai mati di Jipang, namun berkat nasehat terakhir dari gurunya yang sudah sepuh itu, Ratu Sahibul akhirnya mengalah dan keluar Demak dan Jipang. Mungkin Ja’far Shodiq ingin mengingatkan bagaimana nasib orang-orang yang membangkang pada penguasa dahulu, biasanya selalu berakhir dengan tragis. Ja’far Shodiq tidak mau membiarkan nasib Ratu sahibul seperti  pemberontak atau orang-orang yang dianggap membangkang terhadap pemerintahan resmi, boleh jadi dia tidak mau nasib Ratu Sahibul seperti Ki ageng Pengging, Ranggalawe, Syekh Siti Jenar yang sebenarnya mungkin benar, tapi karena mereka semua tidak sesuai dengan pakem penguasa, maka mereka menjadi korban keadaan (dihukum).

Padahal, mereka itu belum tentu salah dimata Tuhan. Oleh karena itu boleh jadi pertemuan terakhir antara Ja’far Shodiq terhadap Ratu Sahibul masih terjadi, dan boleh jadi Ja’far Shodiq mungkin sempat berwasiat seperti ini, "keluarlah engkau wahai anakku Ratu Sahibul dari kerajaan demak demi kebaikan masa depan dan juga keturunanmu, pikirkan semua akibat jika engkau bersikeras anakku, sudah banyak contoh dari mereka yang coba melawan penguasa, apakah engkau mau seperti mereka anakku.. mengalahlah anakku sekalipun engkau merasa benar, pergilah, dan cari tempat yang memang cocok untukmu, semoga engkau dalam perlindungan Allah SWT, amin....Gurumu Ja’far Shodiq"

Seperti itulah mungkin kurang lebihnya pesan yang  Ahli Sejarah imajinasikan dari Ja’far Shodiq untuk Ratu Sahibul, jika dilihat sepintas isi pesan ini tidaklah terlalu berlebihan, isinya justru Ratu Sahibul disuruh untuk berfikir ulang terhadap tindakan dan akibat yang akan dilakukannya.

Ratu Sahibul tidak tewas dalam pertempuran dengan Hadiwijaya, akhirnya menyingkir ke Sumatra Selatan. Ratu Sahibul ternyata diluar dugaan musuh-musuhnya yang pada mulanya dikira sudah mati secara tragis, ternyata masih hidup. Ahli Sejarah berkeyakinan pada saat beliau masih hidup pun setelah pertempuran dengan Pasukan Hadiwijaya, pasti ada juga yang mengetahui bahwa beliau masih hidup, ditambah perjalanannya ke Sumatra pasti ada juga yang tahu. Bukan tidak mungkin dan tidak mustahil hal ini terjadi karena wajahnya yang sebagai penguasa pasti dikenal orang. Justru bisa saja ada yang menyuruh kepergian ratu Sahibul ke Sumatra (kemungkinan Ja’far Shodiq) guna menyelamatkan  keluarga dan demi kebaikan Ratu Sahibul sendiri untuk tidak melawan Penguasa Kerajaan Demak dan Pajang yang telah bersatu berjuang untuk mewujudkan kejayaan.