Makam Guru Sunan Kudus | Makam Kyai Teingsing | Ilmu Hakikat Sunan Kudus - www.sunan-kudus.com
Sunan Kudus

Makam Kyai Telingsing

Kyai Telingsing memang tidak terlalu populer dan terkenal seperti Raden Ja'far Shadiq atau yang sering kita kenal dengan Sunan Kudus. Kyai Telingsing merupakan guru Sunan Kudus yang mengajarkan Sunan Kudus memiliki kepribadian yang disiplin dan berani. Keduanya merupakan sama-sama pejuang dan para dakwah Islam untuk perkembangan dan kemajuan ajaran agama Islam.

Jika ingin berziarah ke makam Sunan Kudus, maka jangan sampai lupa untuk berziarah ke makam Kyai Telingsing juga. Makam Kyai Telingsing terletak sekitar dua kilometer ke selatan dari Masjid Sunan Kudus dan makan Sunan Kudus. Makam Kyai Telinsing tepatnya di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di sekitar kompleks makam Kyai Telingsing, ada beberapa makam lain yang di antaranya diyakini sebagai makam putera dari Kyai Telingsing. Di cungkup utama, ada dua makam, yaitu makam Kyai Telingsing, dan Khadam (seorang murid yang berguru kepada Kyai Telingsing). Hampir setiap hari, makam Kyai Telingsing diziarahi oleh warga Kudus. Bahkan, masyarakat keturunan Tionghoa juga ada yang berziarah ke makam Kyai Telingsing ini, baik yang beragama Islam maupun non muslim Terutama pada Kamis sore hingga Malam Jum'at. Tidak hanya dari Kudus, banyak juga peziarah yang datang dari luar Kudus seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Pati, kendal untuk berziarah ke makam Kyai Telingsing.

Kyai Telingsing merupakan putera dari Sunan Sungging. Ayahnya ini adalah orang Arab yang berdakwah di Tingkok (China) dan kemudian menikah dengan perempuan di China. Dari pernikahan mereka lahirlah The Ling Sing atau yang oleh masyarakat Kudus lebih dikenal dengan Telingsing. Pada saat ayahnya akan meninggal, ayahnya berwasiat kepada Kyai Telingsing. Kalau kamu ingin hidup mulia dunia akhirat, ikutlah jejakkku berdakwah Islam.

Ayahnya menganjurkan agar ia pergi ke Nusantara (Indonesia), tepatnya di Pulau Jawa, karena penduduk di Pulau Jawa sudah banyak dan sudah pula beragama. Akhirnya Kyai Telingsing sampai di kota Kudus. Pada saat itu, masyarakat Kudus masih banyak yang beragama Hindu atau Budha. Kebetulan, pada saat berdakwah, Telingsing bertemu dengan kanjeng Sunan Kudus. Akhirnya, mereka pun berdakwah bersama-sama.

Suatu ketika, Sunan Kudus hendak menerima kunjungan dari orang Tiongkok. Oleh Sunan Kudus, Kyai Telingsing diminta menyunggging (mengukir) sebuah kendi sebagai cinderamata yang akan diberikan kepada tamunya, namun tidak dilakukan oleh Kyai Telingsing. Sunan Kudus pun tidak berkenan dan membanting kendi tersebut.

Pada saat kendi tersebut pecah, keanehan pun terjadi. Pada pecahan kendi itu, terdapat ukiran dua kalimat syahadat yang teramat indah. Sungging (ukiran) tersebut pun membuat Sunan Kudus terpesona. Konon, dari kata Nyungging itu pula Desa Sunggingan lahir dan dikenal sampai sekarang.